Home / Info Umum /

Sejarah UBER Taksi

sejarah

Sejarah UBER Taksi

by admin
Comments are off for this post.

Uber adalah startup dengan pendanaan terbesar di dunia dan dinilai sebesar USD 50 milyar atau senilai 700 trilyun rupiah.  Dalam lima tahun operasinya,  Uber secara total telah mendapatkan pendanaan sebesar USD 2,7 milyar atau senilai 37 trilyun rupiah.

Uber didirikan oleh Garret Camp dan Travis Kalanick. Keduanya merupakan pengusaha teknologi sukses yang pernah mencetak strart-up mereka sebelumnya.  Garret dan Travis bertemu pada tahun 2008 dimana Garret menceritakan idenya untuk menjalankan layanan mobil mewah yang nyaman dan terjangkau.  Garret memiliki ide ingin memecahkan masalah besar di San Fransisco – sulitnya mendapatkan taksi.

Uber saat ini memiliki lima pilihan kendaraan: Taxi, Black (mobil sedan mewah), SUV, LUX (pilihan mobil paling mewah), dan UberX (layanan mobil dari sesama pengguna). Selain itu, Uber juga memiliki sejumlah produk yang masih dalam tahap testing seperti Essentials dan Rush. Essentials merupakan jasa pengiriman barang-barang esensial seperti snack, minuman ringan, dan perlengkapan medis. Dan Rush merupakan jasa kurir.

Saat ini Uber beroperasi tidak hanya di San Fransisco, tapi di lebih dari 250 kota di 50 negara. Mereka memiliki rencana menciptakan satu juta pekerjaan pada tahun 2015, dan memiliki impian dimana pengendara tidak perlu lagi membeli sebuah mobil karena berkendara dengan Uber akan menjadi alternatif yang lebih murah nantinya. Hal ini dapat terjadi karena konsep ride-sharing/berbagi kendaraan akan memangkas waktu idle (waktu tidak terpakai di parkiran kantor atau di rumah) dan menurunkan biaya perawatan dan gaji sopir (karena lebih sering dipakai maka biaya per penggunaan menjadi turun) – intinya adalah skala ekonomis dan efisiensi.

Pada pertengahan tahun 2009, berhubung Garret masih bekerja penuh waktu setelah membeli kembali StumbleUpon dari eBay, ia menunjuk Travis sebagai Chief Incubator. Kewajiban Travis pada saat itu adalah memimpin operasi Uber untuk sementara, membuat prototype produk, dan menemukan General Manager untuk menjalankan operasi perusahaan penuh waktu hingga peluncuran pertamanya di San Fransisco.

Posisi itu dinilai tepat bagi Travis yang saat itu masih beristirahat setelah menjalankan startup-nya non-stop selama 10 tahun. Bersama dengan Oscar Salazar, teman Garret semasa kuliah, mereka bertiga meluncurkan prototype produk Uber di New York pada Januari 2010. Tidak lama setelah itu, mereka berhasil menemukan orang yang tepat untuk mengisi posisi General Manager yaitu Ryan Graves.

Untuk perusahaan sebesar Uber yang memiliki model bisnis menghubungkan penumpang dan pengemudi di lebih dari 250 kota, kontroversi menjadi suatu hal yang tidak terelakkan, baik itu dari pihak eksternal maupun internal.

Dari sisi eksternal, Uber memiliki banyak tantangan untuk meyakinkan pemerintah setempat bahwa mereka menjalankan bisnis yang legal. Sejumlah pemerintah kota sempat ingin menutup layanan Uber, sebut saja San Fransisco dan California, namun pada akhirnya Uber berhasil mendapatkan ijin beroperasi di kota-kota tersebut. Namun, perusahaan ini terus mendapatkan tekanan dari pemerintah kota lainnya seperti Jakarta, kota Ho Chi Minh, dan Bangkok.

Di luar dari itu, banyak pelaku di industri taksi tradisional yang tidak menginginkan kehadiran Uber di kota mereka. Para pelaku ini khususnya para pengemudi taksi sering melakukan aksi protes di berbagai kota. Bahkan, kemarahan ini sempat berujung pada perusakan mobil Uber di Paris.

Sedangkan dari sisi internal, salah satu masalah terbesar Uber terletak pada bagian pengemudi. Sejumlah pengemudi Uber sudah mendapatkan tuduhan menculik seorang pengendara wanita, melakukan kekerasan terhadap pengendara, hingga melakukan pelecehan dan pemerkosaan. Padahal seluruh pengendara itu sudah melewati seleksi Uber.

Uber memiliki banyak sekali rival di ranah ini. Di Amerika contohnya, Uber berhadapan dengan Lyft dan SideCar, perusahaan yang juga bergerak dalam jasa menghubungkan pengemudi dan pengendara.

CNN sempat melaporkan bahwa pegawai Uber telah memesan dan membatalkan perjalanan di Lyft sebanyak 5.560 kali dalam setahun terakhir. Hal itu dinilai telah mengurangi jumlah pendapatan serta ketersediaan para pengemudi Lyft. Namun, Uber menyerang balik dengan mengatakan bahwa Lyft telah memesan dan membatalkan perjalanan di Uber sebanyak 13.000 kali! Sungguh persaingan yang panas.

Di Indonesia saingan Uber adalah GrabTaxi, sebuah applikasi penghubung antara penumpang dengan taksi. Memang model bisnisnya berbeda, namun karena sama-sama menyasar penumpang pengguna kendaraan roda empat, maka terdapat persaingan untuk menjaring penumpang yang sama. Selain GrabTaxi, saingan Uber adalah Gojek dan Grabbike karena memiliki model bisnis yang sama meskipun berbeda kendaraan yang digunakan.

sumber: TechInAsia

Share this article

Comments are closed.