Home / Info Umum /

Benarkah Partner Uber Bisa Mendapatkan 16jt Per Bulan?

penghasilan-uber

Benarkah Partner Uber Bisa Mendapatkan 16jt Per Bulan?

by admin
Comments are off for this post.

Setiap kali kita search di Internet mengenai Bisnis Uber, termasuk juga di website ini, kita melihat bahwa dari proyeksi potensi penghasilan yang disampaikan oleh para recruiter Uber atau yang dikutip oleh wartawan media dari para pengusaha/partner Uber memberikan angka Rp16jt/bulan.

Hal ini semakin menjadi keyakinan karena dari semua review yang kita baca mengkonfirmasi dan memuji-muji penghasilan partner Uber yang mencapai Rp16jt/bulan.

Namun apakah benar angka ini dapat tercapai?

Kekhawatiran ini beralasan karena kata “mencapai” bukanlah rata-rata atau jaminan yang akan didapatkan oleh seluruh partner Uber.

Berikut adalah informasi (belum terverifikasi) salah satu pengguna Uber yang diposting di salah satu forum

dari driver2 uber yang ane interview rata2 bisa dapat 10juta-an. 16 juta mungkin buat yang super rajin.

tapi yah uang makan jangan di itung juga kali gan. emang ada kerjaan yang ga perlu makan? sarjana gaji perdana aja rata2 cuma gaji 3-4 juta doank. itu juga perlu makan.

dulu ane ada langganan uber drivernya cewe, mereka selalu berdua, jadi kalau mo lewat jalur 3in1 ga msalah. menurut mereka penghasilan dari uber jauh lebih besar daripada gaji mereka BERDUA sebagai marketing & communication di salah satu resto ternama Jakarta.

Berikut adalah sebuah testimonial dari seorang partner Uber yang diposting di salah satu forum

Bullshit gan 16juta….
jangan terlalu cepet percaya iming2…
ane supir uber… tau enak gak enaknya….
16 juta itu PENGHASILAN KOTOR KALO mau kerja tiap hari selama lebih dari 10 jam non stop sebulan.
Ane kerja 14 jam sehari PALING TINGGI dapet 500ribu (Gross), beli bensin 160ribu, makan 50ribu buat 3x makan. Uang tol balik kalo tamu ke pinggiran jakarta ato airport sekitar 10-20ribu…
itu belum dipotong lagi biaya maintenace mobil kaya cuci, servis, ganti ban, dll. Dan karena policynya uber tuh no tips, customer juga bokis2 gan… jarang yg ngasih tips… walaupun ada sih 1-2 yg mo berbaik hati ngasih tambahan 10-50ribu… tapi jarang banget.
dah seirit2nya dan kerja cape seharian paling banyak ngantongin bersih 200ribuan… kalo kerja 25 hari sebulan…. u do the math deh… itu juga kalo punya mobil n nyetir sendiri yah… bukan bagi hasil sama rental ato supir…
jangan coba2 deh kredit mobil baru cuma buat driver uber kalo gak punya kerjaan sampingan lainnya… kecuali mo tidur di mobil sampe tuh mobil lunas yaks…
hahahaha….
Ato kalo mau cari second-nan avanza busuk yang murmer yg penting ada ac n bisa jalan dan gak usah ada maintenance… , baru tuh untungnya rada terasa… kalo beli mobil baru mah amsyong dah….

Tapi kalo cuma buat nambah2 uang jajan sama bensin buat keperluan pribadi lumayan lah… itung2 keperluan transport buat kerjaan primary ane gratis…. itu juga ane hoki gan gara2 kerjaan bisa di remote semua dari hape…. jadi bisa multi tasking sambil narik uber… n kebetulan punya mobil juga….

Selain itu kekhawatiran lain muncul dari kenyataan bahwa selama ini Uber masih memberikan subsidi kepada para partner Uber. Subsidi ini bisa mencapai 2.4 kali lipat dari rekap tarif yang tercatat di sistem billing Uber.

Jadi misalnya seharian seorang partner mendapatkan 10 trip dengan total tarif 500rb, maka Uber akan memberikan 1,2jt kepada partner tersebut, bukan 500rb.

Subsidi ini terus berkurang dari yang sebelumnya 2.4 kali lipat menjadi 2 kali lipat dan 1.5 lipat. Pada akhirnya Uber tidak akan memberikan subsidi, bahkan mengambil potongan 20persen dari sewa yang didapat oleh partner Uber.

Jadi bisa saja seorang partner yang armadanya secara konsisten mendapatkan sewa 500rb per hari meraup keuntungan yang besar karena masih disubsidi  (jadinya dapat 1,2jt per hari) dengan total pendapatan 36jt per bulan. Lalu kemudian setelah subsidi dicabut dan potongan 20persen diberlakukan jadinya hanya dapat 400rb per hari, dengan total pendapatan 12jt per bulan.

Untuk itu seorang pebisnis Uber dalam memperhitungkan struktur biayanya harus memastikan bahwa seluruh biaya bbm, tol, gaji/bagi hasil driver, perawatan, pajak dan penyusutan harus dapat ditutup dengan pola bagi hasil 80% dari sewa – jangan terus berharap dari manisnya subsidi yang berlaku saat ini.

Mohon diperhatikan bahwa saya tidak memasukkan unsur “cicilan bulanan” mobil karena cicilan bulanan bukanlah biaya. Yang menjadi biaya adalah “bunga cicilan” dan penyusutan. Bunga cicilan dapat dihitung dari perjanjian kredit yang anda ikat dengan leasing sementara penyusutan dapat dilakukan secara persentase dari nilai mobil atau mengikuti standar harga jual kembali mobil jenis tersebut di pasaran.

Jadi misalnya kita gunakan info diatas, maka kita coba hitung sbb:

Penghasilan sewa Uber Rp10jt  (ini sepertinya sudah paling rendah)

Potongan Uber 20pct Rp 2jt

Jadi yang diterima oleh Partner Rp8jt

dikurangi:

Biaya BBm Rp 2.5 jt

Biaya Tol dll Rp 500rb

Gaij/Bagi hasil Pengemudi Rp 3jt

Penyusutan dan Perawatan Rp 1.5jt

Maka tersisa keuntungan Rp1jt per bulan.

 

Jadi dalam skenario paling parah pun (sewa paling rendah, sewa tidak disubsidi bahkan dipotong 20pct) masih bisa dapat keuntungan Rp1jt per bulan.

Kalau misalnya kita kejar untuk dapat Rp16jt per bulan, maka otomatis keuntungan naik menjadi Rp5,8jt per bulan dalam kondisi sewa tidak disubsidi dan dipotong 20pct untuk Uber.

Pertanyaannya Sekarang Adalah Bagaimana Bisa Mencapai Rp16jt Per Bulan Bahkan Lebih?

Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mengatur strategi yang didapatkan dari pengalaman.

Strategi ini mencakup hal penting pertama yang perlu kita tentukan yaitu mendaftarkan jenis kendaraan apa? Karena secara garis besar ada 2 jenis Uber yang berbeda tarifnya: Uber X dan Uber Black.  Tentunya penghasilan akan berbeda antara armada Uber X dan Uber Black.  Untuk masing-masing kelas, baik Uber X maupun Uber Black pun ada berbagai jenis kendaraan yang tentunya berbeda dari segi harga, pemakaian bbm, biaya perawatan dll.

Strategi kedua adalah  berapa lama operasional dalam sehari dan berapa hari dalam sebulan dan bagaimana pengaturan shift yang paling optimal.

Berikutnya adalah strategi penempatan lokasi untuk mencapai tarif maksimum mengingat Uber menerapkan surge price, yaitu kenaikan tarif mencapai berkali-kali lipat dari harga normal. Jarak yang sama dan waktu yang sama bisa jadi berbeda antara langit dan bumi.

Selain itu tentunya ada strategi-strategi lain yang akan kita jelaskan lebih lanjut.

Share this article

Comments are closed.